Sebuah Proses Untuk Berdamai Dengan Diri Sendiri


Sumber Gambar : potret penulis sendiri

Ku awali dengan ucapan kalimat 
Bismillahhirahmanirrahim 

Hati yang terasa panas ketika sang penggoda datang, seakan menyalakan kembali api luka yang pernah ia tinggalkan. Luka itu seperti penyakit yang terus menggores, membuatku hampir membuka kembali lembaran lama. Namun, logika yang sudah berjalan sejak aku mengakhiri hubungan dengannya menuntunku untuk berpikir lebih jernih. seketika hatiku berkata "Emang dasarnya aja udah sama-sama laku keras, dengan harga yang sangat murah."

Kini, prosesku berfokus pada satu hal: mencintai diri sendiri. Itu bukan perjalanan yang mudah. Harus pelan-pelan, penuh kesabaran, dan membutuhkan kekuatan mental yang kupunya. Aku belajar memperbarui diriku, menata kembali hati yang pernah hancur.

Syukurlah, ada teman-teman terdekat yang selalu mendukungku. Mereka hadir ketika pikiranku jatuh karena perlakuan dia. Pengkhianatan memang menyakitkan, tapi aku memilih menikmati proses pemulihan ini dengan kekuatan sendiri tanpa bergantung pada siapa pun.

Kepada diriku sendiri, dan juga kepada kalian yang membaca tulisan ini: " jangan lupa untuk memberi dukungan pada diri sendiri." Ikhlas memang tidak mudah, aku pun masih berjuang. Namun, setiap keluhan yang kita sampaikan kepada Tuhan selalu didengar. Tuhan menyertai setiap langkah, bahkan di saat kita merasa paling rapuh.

Kadang, bayangan masa lalu masih muncul. Momen kebersamaan itu sulit hilang begitu saja. Tapi aku percaya, luka bisa sembuh seiring waktu.

Untuk kalian yang sedang gagal dalam sebuah hubungan: "Semangat. Kalian tidak sendirian." Ada Tuhan yang selalu menyertai proses pemulihan kalian, ada orang tua yang selalu mendukung, dan yang paling penting adalah buktikan bahwa diri kalian sendiri yang layak dicintai.

Komentar

Postingan Populer